![]() |
| SOEHARTO,BERSEDIA MUNDUR DARI JABATAN PRESIDEN |
Jam 14.30 WIB. 14 Menteri bidang
Ekuin mengadakan pertemuan digedung Bappenas. Dua menteri lain Mohamad Hasan
dan menkeu Fuad Bawazier tidak hadir.
Mereka sepakat tidak bersedia duduk
dalam komite Reformasi, atau pun Kabinet
Reformasi hasil reshuffle.
Semula ada keinginan untuk menyampaikan hasil
pertemuan itu secara langsung kepada
Presiden Soeharto, tetapi akhirnya diputuskan menyampaikannya lewat sepucuk surat.
Jam 20.00 WIB, surat itu kemudian
disampaikan kepada Kolonel Sumardjono. Surat itu kemudian disampaikan kepada Presiden Soeharto. Seharto langsung masuk ke kamar dan membaca
surat itu.
Soeharto saat itu benar-benar terpukul ia merasa ditinggalkan. Apalagi 14 menteri bidang
Ekuin yang menandatangani surat tidak
kesediaan itu ada orang yang dianggap
telah “diselamatkan “ Soeharto.
Ke 14 Menteri yang
menandatangani, sebut saja Deklarasi Bappenas itu secara berurutan
adalah,
Ir Akbar Tandjung ; Ir Drs AM
Hendropriyono SH, SE, MBA ; Ir
Ginandjar Kartasasmita ; Ir Giri
Suseno Hadihardjono MSME ; Dr Haryanto
Dhanutirto ; Prof Dr Ir Justika S.
Baharsjah M.Sc ; Dr Ir Kuntoro
Mangkusubroto M.Sc ; Ir Rahmadi Bambang Sumadhijo; Prof Dr Ir Rahadi Ramelan M.sc ; Subiakto Tjakrawerdaya SE ; Sanyoto Sastrowardoyo M.sc ; Ir Sumahadi MBA ; Drs Theo L Sambuaga ; dan Tanri Abeng MBA.
Alinea pertama surat itu, secara implisit meminta
agar Soeharto mundur dari jabtaannya. Perasaan ditinggalkan, terpukul, telah membuat Soeharto tidak mempunyai pilihan
lain kecuali memutuskan untuk mundur.
Soeharto benar-benar tidak
menduga akan menerima surat seperti itu.
Persoalannnya sehari sebelum surat itu tiba, ia masih berbicara
dengan Ginandjar Kartasasmita untuk
menyususun Kabinet Reformasi. Ginandjar masih memberikan usulan tentang
menteri-menteri yang perlu diganti, sekaligus nama penggantinya.
Probosutedjo, adik Soeharto, yang
berada dikediaman jalan Cendana, malam itu mengungkapkan, Soeharto malam itu
terlihat gugup dan bimbang. “ Pak harto gugup dan bimbang , apakah Habibie siap
dan bisa menerima penyerahan itu. Suasana
ini baru sirna setelah Habibie menyatakan diri siap menerima jabatan Presiden.
“ ujarnya.
Probosutedjo menggambarkan
suasana di kediaman Soeharto malam itu cukup tegang. Perkembangan detik
perdetik selalu diikuti dan segera disampaikan ke Soeharto.
Dikatakan saya
memberikan informasi terkini, tentang tuntutan dan permintaan yang terjadi di
DPR, informasi bahwa akan ada orang-orang yang bergerak ke Monas, serta
perkembangan dari luar negeri.” Ujar Probosutedjo, seraya menambahkan bahwa
saat itu semua anak-anak Soeharto berkumpul
di Jalan Cendana. Soeharto kemudian bertemu dengan mantan Wakil Presiden
; Umar Wirahadukusumah, Sudharmono, dan Try Sutrisno.
Jam 23.00 WIB, memerintahkan
ajudan untuk memanggil Yusril Ihza Mahendra, Mensegneg Saadillah Mursjid, dan Panglima ABRI Jend TNI Wiranto. Soeharto sudah berbulat hati menyerahkan kekuasaan kepada Wapres BJ Habibie.
Wiranto sampai tiga kali bolak –
balik dari Cendana ke Kantor Menhankam
untuk menyikapi keputusan Soeharto. Wirsnto perlu bicara dengan para Kepala
Staf Angkatan mengenai sikap yang akan diputuskan ABRI dalam menanggapi
keputusan Soeharto utuk mundur. Setelah
mencapai kesepakatan dengan Wiranto, Soeharto
kemudian memanggil Habibie.
Jam 23.20 WIB. Yusril Ihza
Mahendra bertemu dengan Amien Rais. Dalam pertemuan itu, Yusril
menyampaikan bahwa Soeharto bersedia
mundur dari jabatannya. Yusril juga
menginformasikan bahwa pengumumannya
akan dilakukan Soeharto 21 Mei 1988 jam 09.00 WIB.
Dalam bahasa Amien Rais,
kata-kata yang disampaikan oleh Yusril itu,”The
old man most probably has resigned”. Kabar itu lalu disampaikan juga kepada
Nurcholis Madjid, Emha Ainun Madjid, Utomo Danandjaya, Syafii Ma’arif, Djohan Effendi, H Amidan, dan yang lainnya. Lalu mereka segera mengadakan pertemuan dimarkas para tokoh
reformasi damai di Jalan Indramayu 14 Jakarta Pusat, yang merupakan rumah dinas Dirjen Pembinaan Lembaga Islam,
Departemen Agama, Malik Fadjar.
Disana Cak Nur panggilan Nurchlis
Madjid menyusun ketentuan - ketentuan yang
harus disampaikan kepada pemerintahan
baru.
Jam 01.30 WIB, Amie Rais dkk
mengadakan jumpa pers . Dalam Jumpa per situ Amien Rais mengatakan, ”Selamat tinggal pemerintahan lama, dan selamat
datang pemerintahan baru’. Keduanya menyambut pemerintahan transisi yang akan menyelenggarakan pemilihan umum
hingga sidang umum MPR untuk memilih pemimpin Nasional yang baru dalam jangka
waktu enam bulan.
( berbagai sumber)





0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !