CIKAL BAKAL REFORMASI DEMOKRASI INDONESIA MEI 1998------SOEHARTO,BERSEDIA MUNDUR DARI JABATAN PRESIDEN - Infopatroli.net - News Portal Indonesia
Headlines News :
Home » , , , , , , » CIKAL BAKAL REFORMASI DEMOKRASI INDONESIA MEI 1998------SOEHARTO,BERSEDIA MUNDUR DARI JABATAN PRESIDEN

CIKAL BAKAL REFORMASI DEMOKRASI INDONESIA MEI 1998------SOEHARTO,BERSEDIA MUNDUR DARI JABATAN PRESIDEN

Written By infopatroli on Sunday, June 4, 2017 | 11:08 AM


SOEHARTO,BERSEDIA MUNDUR DARI JABATAN PRESIDEN 
20 Mei Tahun 1998.

Jam 14.30 WIB. 14 Menteri bidang Ekuin mengadakan pertemuan digedung Bappenas. Dua menteri lain Mohamad Hasan dan menkeu Fuad Bawazier  tidak hadir. Mereka sepakat  tidak bersedia duduk dalam komite Reformasi,  atau pun Kabinet Reformasi hasil reshuffle.

Semula  ada keinginan untuk menyampaikan hasil pertemuan itu secara langsung kepada  Presiden Soeharto, tetapi akhirnya diputuskan  menyampaikannya lewat sepucuk surat.

Jam 20.00 WIB, surat itu kemudian disampaikan kepada Kolonel Sumardjono. Surat itu kemudian disampaikan  kepada Presiden Soeharto. Seharto langsung masuk ke kamar dan membaca surat itu.

 Soeharto saat itu benar-benar terpukul  ia  merasa ditinggalkan. Apalagi 14 menteri bidang Ekuin yang menandatangani  surat tidak kesediaan itu ada orang yang  dianggap telah “diselamatkan “ Soeharto.

Ke 14 Menteri yang menandatangani, sebut  saja Deklarasi Bappenas itu secara berurutan adalah,
Ir Akbar Tandjung ;  Ir Drs AM Hendropriyono SH, SE, MBA  ;  Ir  Ginandjar Kartasasmita ;  Ir Giri Suseno Hadihardjono MSME ;  Dr Haryanto Dhanutirto ;  Prof Dr Ir Justika S. Baharsjah M.Sc ;  Dr Ir Kuntoro Mangkusubroto M.Sc ;   Ir Rahmadi Bambang  Sumadhijo;  Prof Dr Ir Rahadi Ramelan M.sc ;  Subiakto Tjakrawerdaya SE ;  Sanyoto Sastrowardoyo M.sc ;  Ir Sumahadi MBA ;  Drs Theo L Sambuaga ; dan Tanri Abeng MBA.

Alinea  pertama surat itu, secara implisit meminta agar Soeharto  mundur dari jabtaannya.   Perasaan ditinggalkan,  terpukul,  telah membuat Soeharto tidak mempunyai pilihan lain kecuali memutuskan untuk mundur.

Soeharto benar-benar tidak menduga akan menerima surat seperti  itu.  Persoalannnya  sehari  sebelum surat itu tiba, ia masih berbicara dengan Ginandjar Kartasasmita  untuk menyususun Kabinet Reformasi. Ginandjar masih memberikan usulan tentang menteri-menteri yang perlu diganti, sekaligus nama penggantinya.

Probosutedjo, adik Soeharto, yang berada  dikediaman jalan Cendana,  malam itu mengungkapkan, Soeharto malam itu terlihat gugup dan bimbang. “ Pak harto gugup dan bimbang , apakah Habibie siap dan bisa menerima penyerahan itu.  Suasana ini baru sirna setelah Habibie menyatakan diri siap menerima jabatan Presiden. “ ujarnya.

Probosutedjo menggambarkan suasana di kediaman Soeharto malam itu cukup tegang. Perkembangan detik perdetik selalu diikuti dan segera disampaikan ke Soeharto.

 Dikatakan saya memberikan informasi terkini, tentang tuntutan dan permintaan yang terjadi di DPR, informasi bahwa akan ada orang-orang yang bergerak ke Monas, serta perkembangan dari luar negeri.” Ujar Probosutedjo, seraya menambahkan bahwa saat itu semua anak-anak Soeharto berkumpul  di Jalan Cendana. Soeharto kemudian bertemu dengan mantan Wakil Presiden ; Umar Wirahadukusumah, Sudharmono, dan Try Sutrisno.

Jam 23.00 WIB, memerintahkan ajudan untuk memanggil Yusril Ihza Mahendra,  Mensegneg Saadillah Mursjid,  dan Panglima ABRI Jend TNI Wiranto.  Soeharto sudah berbulat hati menyerahkan  kekuasaan kepada Wapres BJ Habibie.

Wiranto sampai tiga kali bolak – balik dari Cendana ke Kantor  Menhankam untuk menyikapi keputusan Soeharto. Wirsnto perlu bicara dengan para Kepala Staf Angkatan mengenai sikap yang akan diputuskan ABRI dalam menanggapi keputusan Soeharto utuk mundur.  Setelah mencapai kesepakatan dengan Wiranto,  Soeharto kemudian memanggil  Habibie.

Jam 23.20 WIB. Yusril Ihza Mahendra bertemu dengan Amien Rais. Dalam pertemuan itu, Yusril menyampaikan  bahwa Soeharto bersedia mundur dari jabatannya.  Yusril juga menginformasikan  bahwa pengumumannya akan dilakukan Soeharto 21 Mei 1988 jam 09.00 WIB.

Dalam bahasa Amien Rais, kata-kata yang disampaikan oleh Yusril itu,”The old man most probably has resigned”. Kabar itu lalu disampaikan juga kepada Nurcholis Madjid,  Emha Ainun Madjid,  Utomo Danandjaya,  Syafii Ma’arif,  Djohan Effendi,  H Amidan,  dan yang lainnya. Lalu mereka segera  mengadakan pertemuan dimarkas para tokoh reformasi damai di Jalan Indramayu 14 Jakarta Pusat, yang merupakan  rumah dinas Dirjen Pembinaan Lembaga Islam, Departemen Agama, Malik Fadjar.

Disana Cak Nur panggilan Nurchlis Madjid  menyusun ketentuan - ketentuan yang harus   disampaikan kepada pemerintahan baru.

Jam 01.30 WIB, Amie Rais dkk mengadakan jumpa pers . Dalam Jumpa per situ Amien Rais mengatakan, ”Selamat tinggal pemerintahan lama, dan selamat datang pemerintahan baru’. Keduanya menyambut pemerintahan transisi  yang akan menyelenggarakan pemilihan umum hingga sidang umum MPR untuk memilih pemimpin Nasional yang baru dalam jangka waktu enam bulan.

( berbagai sumber)
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !