| Presiden Soeharto, Temu Ulama dan Tokoh Masyarakat (foto Kompas.com) |
19 Mei 1998
Presiden Soeharto bertemu ulama dan tokoh masyarakat sekitar jam 09.00 – 11.32 WIB. Antara lain Abdurrahman Wahid Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama,Prof Malik Fadjar , Sumarsono dari (Muhammadiyah), Achmad Bagdja, Ma’ruf Amin dari (Nahdlatul Ulama), Nur Chalis Madjid Direktur Yayasan Paramadina, Ali Yafie Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Yusril Ihza Mahendra Guru Besar Hukum Tata Negara dari Universitas Indonesia, Budayawan Emha Ainun Nadjib, KH Cholil Baidowi dari (Muslimin Indonesia).
Presiden Soeharto memberikan
keterangan pers sesuai pertemuan dengan para ulama, tokoh masyarakat,
organisasi kemasyarakatan, dan ABRI di Istana Merdeka,19 Mei 1988, dua hari
sebelum mengundurkan diri menjadi Presiden. Disaksikan Mensekneg Saadilah Mursyid, dan
para tokoh , antara lain Yusril Ihza Mahendra, Amidhan, Nurcholis Madjid, Emha Ainun Madjid, Malik Fadjar , Sutrisno Muhdam, Ali Yafie, Ma’ruf Amin, Abdurrahman Wahid, Cholil Baidowi, Adlani, Abdurrahman Nawi, dan Ahmad Bagdja.
Usai pertemuan,Presiden Soeharto
mengemukakan, akan segera mengadakan
Resuffle Kabinet Pembangunan VII, dan sekaligus
mengganti namanya menjadi Kabinet Reformasi. Nuircholis Madjid sore hari mengungkapkan
bahwa gagasan reshuffle Kabinet dan membentuk Kabinet Reformasi itu murni dari
Presiden Soeharto dan bukan usulan mereka.
Dalam pertemuan ini, sesungguhnya
tanda - tanda bahwa Soeharto akan mengundurkan
diri sudah nampak. Namun ada dua orang yang tidak setuju bila Soeharto
menyatakan mundur, karena dianggap tidak
akan menyelesaikan masalah.
Jam 16.30 WIB, Menko Ekuin
Ginandjar Kartasasmita bersama Meperindag Mohamad Hasan melaporkan kepada Presiden soal kerusakan jaringan distribusi ekonomi akibat aksi
penjarahan dan pembakaran. Bersama
mereka juga ikut Menteri Pendayagunaan BUMN Tanri Abeng yanga akan melaporkan
soal rencana penjualan saham BUMN yang beberapa peminatnya menyatakan mundur.
Pada saat itu Menko Ekuin juga menyampaikan reaksi negative para senior
ekonomi, Emil Salim, Soebroto, Arifin Siregar, Moh Sadli, dan Frans Seda, atas
rencana Soeharto membentuk Komite Reformasi dan mereshuffle Kabinet. Mereka
intinya menyebut, tindakan itu
mengulu-ulur waktu.
( berbagai sumber)




0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !